(Konsepsi Dasar Revitalisasi Kampus Hijau menuju Mercusuar Ilmuan Madura)

12249822_1002793813077025_4554020778503669434_n

Oleh: Moh. Subhan, MA

Tulisan ini adalah pengembangan konsep bangunan ilmu yang selama ini menadi kajian Lembaga Penjaminan Mutu Internal (LPMI) Universitas Islam Madura, dalam banyak diskusi yang terus menerus dan istiqomah dilakukan oleh tim -Maka kajiannya menghasilkan konsep bangunan ilmu yang disebut MENARA ILMU Universitas Islam Madura. Menara Ilmu yang dimaksud adalah (1) Keislaman, (2) Keindonesiaan, (3) Kepesantrenan, (4) Kemaduraan dan (5) Keaswajaan. Dalam banyak diskusi menara ilmu seperti Keislaman, Keindonesiaan, Kepesantrenan, Kemaduraan dan Keaswajaan diharpakan menjadi warna kehidupan masayarakat kampus Universitas Islam Madura secara utuh dan berkelanjutan oleh karena Menara ilmu yang tinggi besar dan kuat di Universitas Islam Madura dapat memiliki pondasi yang kuat pula. Pondasi itu menghujam ke bumi. Pondasi inilah yang selalu berfungsi memperkuat bangunan ilmu yang diatasnya sesuai yang dibutuhkan, dan sekaligus sebagai penyangga kekuatan seluruh bagian-bagian yang terkait dengan bangunan Menara ilmu yang tinggi menjulang langit. Kendati kekuatan Menara ilmu di Universitas Islam Madura tergantung dari pondasinya. Jika pondasi itu menghujam ke bumi dengan kuatnya, maka bangunan Menara ilmu diatasnya itu bisa tegak. Pada saat apapun, misalnya sekalipun diterjang oleh angin kencang serta hujan lebat, jika pondasi ini kuat dan kokoh maka Menara ilmu itu tidak akan roboh bahkan menjadi kekaguman tersendiri bagi banyak orang yang ada di sekitarnya bahkan dunia.

Pondasi yang kuat ini digunakan untuk menggambarkan, betapa pentingnya ilmu-ilmu dasar yang harus dikuasai oleh pencari ilmu di kampus hijau Smart Solution For future ini. Yang dimaksud sebagai ilmu dasar adalah kemantapan dalam beragama Islam, keyakinan yang kuat, ketauhidan yang mapan dan istiqomah sehingga nilai keislaman yang menjadi performace perilaku masyarakat kampus mengacu pada pondasi dasar yaitu Al-Quran dan Hadist. Universitas Islam Madura menginginkan agar para lulusannya mencintai dan mampu memahami kitab suci al Qurán secara mandiri. Oleh karena itu kemampuan berbahasa Arab sama sekali tidak boleh diabaikan. Selain itu, mahasiswa juga diharapkan mampu mengusai buku teks dan juga bisa bergaul dengan orang-orang yang berbahasa internasional. Oleh karena itu Bahasa Inggris menjadi penting dikuasai oleh mereka. Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, keduanya diposisikan sebagai alat atau instrumen yang harus dikuasai.

Betapa pentingnya kedua bahasa asing itu, maka dalam perumpamaan menara yang kuat dan tinggi, digambarkan sebagai pondasinya. Rancangan menara itu tidak akan goyah, jika pondasinya kuat. Betapapun hebatnya hempasan angin dan hujan, menara itu tetap tegak, jika pondasinya kuat. Demikian pula, jika mahasiswa menguasai kedua bahasa asing itu, maka mereka akan mudah menguasai ilmu pengetahuan, baik yang terkait dengan kajian Islam yang berbahasa Arab, maupun ilmu-ilmu lainnya yang berbahasa Inggris.

Untuk mengantarkan agar mahasiswa menguasai kedua bahasa asing tersebut, maka Universitas Islam Madura seyogyanya mengembangkan program khusus pembelajaran Bahasa Arab dan Inggris. Pembelajaranh Bahasa Arab dilakukan secara intensif, dilakaksanakan pada tahun pertama selama setahun, pada setiap hari, dimulai jam 14.00 hingga jam 20.00. Program itu dilaksanakan oleh unit khusus, yang disebut dengan Program Khusus Pembelajaran Bahasa Arab atau PKPBA dan Program Khusus Pembelajaran bahasa Inggris atau PKPBI.

Kendati , Universitas Islam Madura tidak perlu menyelenggarakan program seperti ini, andaikan para mahasiswa baru yang masuk perguruan tinggi ini telah menguasai kedua bahasa tersebut. Namun pada kenyataannya, justru mayoritas dari mereka belum siap. Atas dasar kenyataan itu, maka universitas menyediakan tenaga pengajar, tempat, manajemen, dan biaya yang cukup besar untuk menyelenggarakan program ini.

Pengetahuan tentang filsafat Pancasila, filsafat atau logika, ilmu-ilmu alam dasar dan juga ilmu-ilmu social dasar dipandang penting dimiliki oleh mahasiswa. Sebagai warga negara yang baik, mahasiswa Universitas Islam Madura harus mendalami filsafat bangsa dan negaranya sebagai manifestasi dari menara keilmuan dalam konteks ke Indonesiaan. Demikian pula, mereka juga harus memiliki kekuatan nalar, logika atau filsafat, dasar-dasar ilmu alam dan social, kesemua itu sebagai bekal dalam mengkaji dan mengembangkan masing-masing disiplin ilmu di kampus ini.

Pengetahuan dasar tentang ilmu alam dan ilmu social, sangat penting sebagai bekal untuk mengkaji al Qurán. Al Qurán memerintahkan kepada manusia agar mengkaji fenomena alam dan social. Perintah itu akan bisa dilaksanakan dengan baik, manakala dasar-dasar pengetahuan tentang alam dan social telah dimiliki oleh mahasiswa. Bisa dibayangkan, bagaimana perintah memperhatikan binatang, tumbuh-tumbuhan, langit, bumi, gunung dan lain-lain dilakukan, jika mereka tidak memiliki pengetahuan tentang dasar-dasar ilmu alam. Demikian pula, al Qurán menganjurkan untuk memahami masyarakat, baik dari aspek sejarah, sosiologis, psikologis dan budayanya, maka itu semua memerlukan dasar-dasar ilmu social.

Selanjutnya, hal penting lagi bahwa Menara ilmu Universitas Islam Madura itu harus berada dan memberi mentari di wilayah seperti Madura dengan Iconnya Abenthal Ombe’ Asapo’ Angin (Bahasa Madura). Wilayah Madura yang banyak lembaga Pondok Pesantrennya sangat menentukan mentari yang cerah dari Menara Ilmu yang dikembangkan Universitas Islam Madura. Menara yang dibangun di tanah yang tandus, maka tidak akan kuat dan tidak akan menghasilkan harapan yang semestinya. Tanah Madura digunakan untuk menggambarkan betapa pentingnya kultur atau budaya kampus berbasis Madura yaitu Ramah, Santun dan Ulet untuk mencapai tujuan dan tidak mudah mengeluh serta berani menghadapi tantangan walaupun harus mati.
Oleh karena itu pengembangan akademik Universitas Islam Madura memerlukan budaya akademik sebagai menu utama kehidupan dalam perguruan tinggi seperti Universitas Islam Madura. Budaya akademik harus dibangun melalui pondasi yang kuat. Kampus yang tidak berhasil mengembangkan budaya akademik, akan cepat goyah. Sama dengan Menara Ilmu yang kita bangun jika tidak kita perkuat pondasinya serta tidak kita rawat dan tidak kita pelihara dan terus diciptakan suasana nyaman maka menara ilmu itu akan mudah roboh atau bahkan mati. Demikian pula, jika pengembangan akademik tidak didukung oleh budaya akademik, maka tidak akan menghasilkan karya-karya akademik yang bisa dibanggakan. Tanpa budaya akademik, aktivitas kampus mungkin akan berjalan, tetapi hanya sebatas formalnya. Kegiatannya hanya sebatas penerimaan mahasiswa baru, proses belajar mengajar, ujian, wisuda, dan penerimaan ijazah. Dalam sebuah kehidupan, maka budaya akademik, dapat diumpamakan sebagai nyawa, jiwa, atau ruhnya.

Atas dasar perumpamaan itu, sarana dan prasarana kampus, seperti gedung-gedung kuliah, laboratorium, perpustakaan, perkantoran dan berbagai kegiatannya, tanpa adanya budaya akademik, maka tidak banyak memiliki arti yang sebenarnya. Keberadaannya bagaikan raga tanpa jiwa, ruh, atau nyawa. Perguruan tinggi seperti ini tidak akan berusia lama, dan suatu saat akan ditinggalkan oleh peminatnya. Budaya akademik di Universitas Islam Madura, sedemikian penting sehingga harus ditumbuh-kembangkan dan pelihara secara secara sabar, ikhlas, dan istiqomah.

Kehidupan spiritual bagi Universitas Islam Madura dianggap sangat penting. Kehidupan spiritual dipandang sebagai dasar atau fondasi bagi pengembangan akademik atau intelektual. Adanya masjid atau setidak-tidaknya Musholla Kampus adalah merupakan pilar penting untuk pengembangan spiritual itu. Selain berbagai macam kegiatan spiritual di kampus dianggap sama pentingnya dengan pengembangan akademik. Semua itu, dimaksudkan agar Universitas Islam Madura benar-benar menjadi wahana untuk mengembangkan manusia secara utuh atau comprehensive, baik menyangkut kehidupan spiritual, akhlak, ilmu, dan professional. Tujuan itu akan diraih, manakala Menara Ilmu itu dibangun dari pondasi dasar yang kokoh dan berada di lingkungan yang pas. Pondasi ilmu digunakan untuk menggambarkan betapa pentingnya pengasaan ilmu yang bersifat instrumental seperti yang tertuang dari 5 (lima) Menara ilmu keaswajaan yaitu : (1) Keislaman yang meliputi materi kuliah Pendidikan Agama Islam Dasar dan Bahasa Arab, (2) ke Indonesiaan yang meliputi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Filsafat atau logika, ilmu alam dan ilmu social, Pancasila dan kewarganegaraan, (3) Kepesantrenan yang meliputi Mata Kuliah : Ta’limul Mutaalim, Akhlak dan Ibadah (4) Kemaduraan yang meliputi mata kuliah : Islam dan Budaya Madura dan (5) Keaswajaan yang meliputi matakuliah Aswaja.

Inilah yang dimaksud 5 (lima) Menara Ilmu Universitas Islam Madura yang harus mewarnai dalam setiap disiplin ilmu yang ada di masing-masing Fakultas melalui Program Studi yang ada di Lingkungan Universitas Islam Madura seperti : yaitu Prodi D3 Kebidanan, Pendidikan Agama Islam, Prodi Akhwalu Al-syaksiyah, Prodi Matematika, Prodi Teknik Informatika, Prodi Sistem Informasi, Prodi Akuntansi, Prodi Pendidikan Fisika, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Prodi Perikanan, Prodi Agroteknologi dan Prodi Agribisnis—dan akan menyusul keluar ijinnya adalah Prodi Ilmu Hukum, Prodi Pendidikan Biologi, Prodi PAUD, Prodi D3 Farmasi—dan sedang diusulkan adalah Prodi Kimia, Prodi Manajemen Pendidikan Islam, Prodi Manajemen dakwah, Prodi Manajemen Komunikasi dan Penyiaran Islam, Prodi Perbannkan Syariah, Prodi ekonomi Syariah dan Bahasa Arab

Oleh karena akan banyaknya prodi baru di Universitas Islam Madura maka mengacu pada bangunan ilmu yang di bangun oleh Universitas Islam Madura yaitu MENARA ILMU maka prodi satu sama lain seharusnya saling menyapa, disiplin ilmu satu dengan yang lain saling berintegrasi dan interkoneksi sebagai jawaban dari visi Universitas Islam Madura sebagai Pergurgan tinggi handal dan berdaya saing yang berkarakter Islam Ahlussunah Wal Jamaah. Maka konsep menyapa ilmu satu dengan yang lain misalnya seperti Prodi Matematika sebelum mahasiswa menerima materi kuliah matematika maka perlu diberi pengetahuan tematik al-quran dan Hadis tentang matematika—maksudnya diperkenalkan ayat-ayat Al-qur’an dan Hadist yang menjelaskan tentang Matematika, setiap dosen juga seyogyanya demikian. Untuk itu dalam upaya implementasi saling menyapa keilmuan secara sistemik kelembagaan maka Universitas Islam Madura harus melakukan perubahan nomenklatur Fakulta–sehingga 6 (enam) Fakultas yang ada di Universitas Islam Madura antara lain Fakultas Agama Islam, Fakultas MIPA, Fakultas Teknik, Fakultas Ekonomi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Fakultas KIP, Fakultas Ekonomi dan Fakultas Pertanian maka akan berubah menjadi : (1) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan yang terdiri dari Prodi PAI, MPI, Manajemen Dakwah, Pendidikan Bahasa Inggris, Bahasa Arab (2) Fakultas Sains dan Teknologi yang terdiri dari Prodi : Pendidikan Fisika, Pendidikan Biologi, Matematika, Kimia, Teknik Informatika, Sistem Informasi (3) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam yang terdiri dari Program Studi : Akuntansi, Perbankan Syariah, dan Eknomi Islam (4) Fakultas Hukum yang terdiri dari Prodi ilmu hokum dan prodi Akhwal Al-Syaksiyah, (5) Prodi ilmu Kesehatan yang terdiri Prodi D3 Kebidanan dan D3 Farmasi (6) Fakultas Pertanian yang terdiri dari : Prodi Agrobisnis, Agroteknologi, dan Agroteknologi Perikanan.

Ilustrasi konsep nomenklatur fakultas baru diatas diharapkan benar-benar dapat menjawab visi Universitas Islam Madura melalui bangunan ilmu yang dikembangkan melalui menara ilmu yaitu Keislaman, Keindonesiaan, Kepesantrenan, Kemaduraan dan Keaswajaan. Rupanya selama ini banyak lembaga pendidikan yang tidak mengalami kemajuan, oleh karena di antaranya, hanya dijalankan secara formal, dengan mengabaikan aspek-aspek interaksi dan integrase keilmuan satu sama lain serta budaya pendidikannya. Kehidupan lembaga pendidikan semacam itu. Wallahu a’lam, mohon kritik untuk kesempurnaan bangunan Ilmu kampus kita, dari Jakarta, 5 April 2016. Salam Semoga Bermanfaat,