Seminar Nasional UIM Angkat Isu Jihad Konstitusional Santri Madura dan Ketahanan Pesantren

Berita Kegiatan Lainnya

PAMEKASAN, uim.ac.id – Universitas Islam Madura (UIM) sukses menggelar Seminar Nasional Kebangsaan dan Kepesantrenan pada Senin, (3/11/2025), bertempat di Aula KH. Sirajuddin UIM Pamekasan. Acara yang dimulai pukul 08.00 WIB ini menghadirkan narasumber utama Dr. (H.C.) K.H. Zulfa Mustofa, Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Seminar yang mengususng tema “Mengukuhkan Jihad Konstitusional Santri Madura: Reafirmasi Peran Pesantren sebagai Pilar Ketahanan Bangsa Pasca-Musibah dan Narasi Negatif oleh Media terhadap Pondok Pesantren Jawa Timur” tersebut berlangsung dengan khidmat dan antusias.

Kegiatan ini dihadiri oleh Rektor, Wakil Rektor, Dekan, Kaprodi, Dosen, Pegawai, Perwakilan Ormawa, PJ Ketua PCNU Kabupaten Pamekasan, serta Dewan Guru MTs. dan MA. Miftahul Ulum Bettet Pamekasan.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Islam Madura H. Ahmad, S. Ag., M. Pd. menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan ini sebagai bentuk penguatan nilai-nilai keislaman ala Ahlussunnah Wal Jamaah dan kebangsaan di lingkungan kampus.

Pihaknya juga menambahkan bahwa UIM dengan slogan Kampus lima Menara Ilmu merupakan bagian dari afirmasi visi Universitas Islam Madura, yaitu: Keislaman, Keindonesiaan, Kepesantrenan, Keaswajaan, dan Kemaduraan.

“Nilai-nilai ini menjadi ruh yang menuntun seluruh aktivitas akademika di kampus ini. Hubungan antara nilai-nilai pesantren ala Ahlussunnah Wal Jamaahdan kebangsaan tidak bisa dipisahkan karena keduanya merupakan fondasi bangsa ini,” tegasnya.

Sementara itu, Dr. (H.C). K.H. Zulfa Mustofa dalam penyampaian materinya menekankan pentingnya peran pesantren dalam memberi warna baru Madura yang lebih baik serta perannya dalam menjaga persatuan bangsa di tengah gempuran arus globalisasi dan informasi negatif.

“Pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga benteng moral bangsa. Santri adalah penjaga nilai-nilai kebangsaan dan pengawal konstitusi yang menjaga Indonesia tetap damai dan beradab. Hal ini sesuai dengan tiga fungsi pesantren, yaitu: Tafaqquh Fiddin (Santri mengerti urusan agama demi membangun masyarakat faham agama; Soft Skill (Santri tahan banting dengan bekal sifat-sifat yang baik seperti sabar, ikhlas, dan semangat; Bekal keterampilan agar Santri siap pakai dan bisa bermafaat kepada masyarakat,” tutur Kiai Zulfa.

Lebih lanjut, Kiai Zulfa menambahkan, kita harus menunjukkan bahwa pesantren adalah sumber kebaikan, tempat lahirnya generasi berilmu, berakhlak, dan cinta tanah air. Jihad konstitusional santri adalah menjaga Indonesia dengan ilmu, akhlak, dan keteladanan.

Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi civitas akademika UIM untuk memperkuat sinergi antara dunia akademik dan pesantren dalam membangun ketahanan bangsa. Sebagimana pesan Kiai Zulfa, “Mas’ulun Diniyah dan Mas’ulun Wathoniyah untuk menjadi tafaqqoh fiddiiin.”

Acara ditutup dengan doa bersama, diiringi harapan agar semangat kebangsaan dan nilai-nilai kepesantrenan senantiasa hidup di tengah masyarakat. (Ila) 

Tulis komentar Anda

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses