
PAMEKASAN, uim.ac.id — Momentum Hari Pendidikan Nasional 2 Mei menjadi ruang refleksi penting bagi dunia pendidikan, khususnya di Kabupaten Pamekasan yang selama ini dikenal sebagai kabupaten pendidikan. Dosen Pendidikan Fisika FKIP Universitas Islam Madura, Dr. Agus Budiyono, M.Pd., menilai bahwa Pamekasan memiliki peluang besar untuk mengembangkan model pendidikan sains berkeadaban berbasis pesantren dan budaya Madura.
Menurutnya, Pamekasan tidak cukup hanya dikenal sebagai daerah dengan banyak lembaga pendidikan. Lebih dari itu, Pamekasan perlu tampil sebagai daerah yang mampu melahirkan gagasan pendidikan khas, terutama dalam mengintegrasikan sains, nilai keislaman, dan budaya lokal.
“Pamekasan memiliki modal besar: sekolah, madrasah, pesantren, perguruan tinggi, budaya Madura, dan tradisi keislaman yang kuat. Modal ini perlu diarahkan untuk membangun pendidikan sains yang tidak hanya mengajarkan konsep dan rumus, tetapi juga menumbuhkan adab, kepedulian lingkungan, dan kemaslahatan,” ujarnya.
Dr. Agus menjelaskan bahwa sains selama ini masih sering dipahami sebagai pelajaran yang sulit, abstrak, dan jauh dari kehidupan peserta didik. Padahal, konsep-konsep sains sangat dekat dengan aktivitas masyarakat, termasuk kehidupan pesantren dan budaya Madura.
Ia mencontohkan, konsep fisika dapat ditemukan dalam aktivitas keseharian santri, pola permukiman masyarakat Madura, rumah tradisional, sirkulasi udara, pencahayaan, pertanian, perubahan cuaca, persoalan air, hingga budaya Tanean Lanjhang.
“Pesantren dan budaya Madura bukan penghalang bagi pendidikan sains. Justru keduanya dapat menjadi pintu masuk agar sains lebih hidup, dekat, dan bermakna bagi peserta didik,” tambahnya.
Sebagai akademisi yang menekuni inovasi pembelajaran sains, ethnosains, serta integrasi sains dan keislaman, Dr. Agus menegaskan bahwa pendidikan sains berkeadaban tidak dimaksudkan untuk mencampuradukkan agama, budaya, dan ilmu secara sembarangan. Integrasi tersebut dimaksudkan untuk menghadirkan sains sebagai jalan memahami ciptaan Allah, membaca tanda-tanda alam, menyelesaikan persoalan kehidupan, dan menghadirkan kemaslahatan.
Sejumlah riset yang dikembangkan di lingkungan Pendidikan Fisika UIM juga telah mengarah pada gagasan tersebut. Di antaranya kajian tentang pembelajaran fisika berbasis nilai Islam di pesantren, kemampuan pemecahan masalah fisika siswa pesantren, argumentasi ilmiah dalam pembelajaran fisika, konsep torsi dalam aktivitas keseharian santri, serta konsep fisika dalam budaya Tanean Lanjhang.
Riset-riset tersebut menunjukkan bahwa Pamekasan dan Madura memiliki kekayaan lokal yang dapat dikembangkan sebagai sumber belajar sains. Karena itu, menurut Dr. Agus, hasil riset tidak boleh berhenti sebagai artikel jurnal atau laporan akademik, tetapi perlu diturunkan menjadi bahan ajar, modul pembelajaran, pelatihan guru, kegiatan siswa, program pengabdian, dan gerakan literasi sains.
“UIM melalui Pendidikan Fisika dan Pendidikan Biologi siap menjadi salah satu simpul akademik dalam penguatan pendidikan sains berkeadaban. Namun agenda ini tidak boleh menjadi milik satu lembaga. Ini perlu menjadi gerakan bersama antara sekolah, madrasah, pesantren, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat,” jelasnya.
Ia berharap momentum Hardiknas dapat menjadi titik berangkat untuk memperkuat arah pendidikan Pamekasan ke depan. Menurutnya, Pamekasan memiliki peluang besar untuk dikenal bukan hanya sebagai kabupaten pendidikan, tetapi juga sebagai pusat pengembangan pendidikan sains yang membumi, bernilai, dan relevan dengan kehidupan masyarakat.
“Dari pesantren dan budaya Madura, kita dapat menguatkan pendidikan sains yang mengasah nalar, menjaga adab, menumbuhkan kepedulian, dan menghadirkan kemaslahatan. Inilah kontribusi yang dapat diberikan Pamekasan untuk masa depan pendidikan Madura dan Indonesia,” pungkasnya.

