Dosen UIM Teliti Diaspora Muslim Jepang: Profesional, Berjamaah, dan Spiritualitas sebagai Pilar Integrasi Sains–Agama

Berita Kegiatan Kerja Sama

Koga, Ibaraki, Jepang, uim.ac.id — Komitmen Universitas Islam Madura (UIM) dalam mengembangkan paradigma integrasi sains dan agama terus diperluas ke ranah internasional. Pada 20 Februari 2026 pukul 21.00 JST, Dosen UIM sekaligus Ketua Pusat Studi Pendidikan Integrasi Sains dan Agama, Dr. Agus Budiyono, M.Pd., melaksanakan dialog akademik dan silaturahim intelektual bersama diaspora Muslim Indonesia di Pesantren At-Taqwa, Koga, Jepang.

Kegiatan ini dihadiri sekitar 20 peserta dari berbagai latar belakang profesi, mulai dari mahasiswa, petani, pekerja pabrik, hingga pengusaha. Dari unsur pimpinan UIM turut hadir Dr. H. Ahmad, S.Ag., M.Pd., selaku Rektor UIM dan Dr. Iswahyudi, M.Si., selaku Ketua LPPM UIM sebagai bentuk dukungan kelembagaan terhadap penguatan jejaring global dan pengembangan riset integratif sains dan agama.

Dialog berlangsung dalam suasana hangat, reflektif, dan penuh keterbukaan. Diskusi difokuskan pada bagaimana diaspora Muslim mampu mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan profesional di tengah masyarakat Jepang yang mayoritas non-Muslim.

Dari pertemuan tersebut, Dr. Agus Budiyono merumuskan tiga nilai utama yang menjadi fondasi keberhasilan sekaligus ketenangan hidup diaspora Muslim Indonesia di Jepang.

Pertama, standar kecukupan dan kesadaran nikmat.

Nilai ini tercermin dari pengalaman Yuanas, pemilik perusahaan pertanian modern, yang menanamkan prinsip profesionalisme tinggi sekaligus kesadaran spiritual tentang kecukupan rezeki. Baginya, keberhasilan usaha bukan sekadar akumulasi hasil, tetapi ruang untuk memperdalam rasa syukur. Kelimpahan produksi justru memperkuat kesadaran akan nikmat dan tanggung jawab sosial.

Kedua, penguatan jam’iyah dan solidaritas umat.

Nilai ini disampaikan oleh Achmad Gazali, peneliti di National Agriculture and Food Research Organization (NARO) sekaligus Ketua Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Jepang. Ia menegaskan bahwa komitmen terhadap organisasi dan kebersamaan umat menghadirkan ketahanan sosial sekaligus kemudahan dalam menjalankan riset dan karier profesional. Sebagai peneliti serangga, ia juga merefleksikan bagaimana detail ciptaan Tuhan menjadi ruang kontemplasi ilmiah sekaligus spiritual.

Ketiga, kebermaknaan melalui kontribusi dan pengorbanan.

Hal ini tercermin dari Bapak Ismail, CEO Nine Star sekaligus Bendahara Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Jepang. Kontribusinya dalam menopang operasional organisasi keislaman diaspora menunjukkan bahwa pengorbanan waktu, tenaga, dan sumber daya justru melahirkan kemudahan serta keberkahan dalam kehidupan.

Dr. Agus Budiyono menilai, temuan ini menegaskan bahwa integrasi sains dan agama bukan sekadar konstruksi teoretis di ruang akademik, melainkan paradigma hidup yang aktual dan operasional.

“Diaspora Muslim di Jepang menunjukkan bahwa profesionalisme, standar mutu kerja, komitmen terhadap jam’iyah, dan kesadaran spiritual tentang nikmat serta keberkahan dapat berjalan beriringan. Integrasi sains dan agama tidak berhenti pada wacana, tetapi hadir dalam praktik kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Sementara itu, Rektor UIM, Dr. H. Ahmad, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari strategi internasionalisasi kampus.

“UIM ingin menghadirkan model pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga relevan secara sosial dan global. Pengalaman diaspora Muslim di Jepang menjadi laboratorium hidup bagi pengembangan integrasi sains dan agama yang kontekstual dan transnasional,” tegasnya.

Kegiatan ini sekaligus mempertegas peran UIM melalui Pusat Studi Pendidikan Integrasi Sains dan Agama dalam membangun kolaborasi internasional serta merumuskan model pendidikan integratif berbasis pengalaman nyata masyarakat Muslim minoritas di berbagai belahan dunia.

Tulis komentar Anda

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses