Kuliah Pakar D3 Farmasi UIM Bahas Potensi Tanaman Obat sebagai Radioprotektor melalui Pendekatan AI

Berita
Kuliah Pakar D3 Farmasi UIM Bahas Potensi Tanaman Obat sebagai Radioprotektor melalui Pendekatan AI

Pamekasan — Program Studi D3 Farmasi Fakultas Kesehatan Universitas Islam Madura (UIM) menyelenggarakan kegiatan Pengabdian Masyarakat dan Kuliah Pakar di Aula Sirojuddin UIM, Kamis (17/9/2026). Kegiatan ini mengangkat tema “Eksplorasi Potensi Tanaman Obat sebagai Radioprotektor melalui Pendekatan Kecerdasan Buatan (AI)”.

Kegiatan tersebut diikuti oleh mahasiswa Program Studi D3 Farmasi UIM. Kuliah pakar ini menjadi salah satu upaya program studi dalam memperluas wawasan mahasiswa, khususnya mengenai pengembangan obat bahan alam serta pemanfaatan teknologi dalam mendukung penelitian di bidang farmasi.

Ketua Program Studi D3 Farmasi UIM, Taufikurrahman, S.Si., M.Farm., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengetahuan langsung dari narasumber yang kompeten. Ia mengajak mahasiswa untuk mengikuti pemaparan dengan baik dan aktif dalam sesi diskusi.

“Mahasiswa datang untuk menerima ilmu dari pemateri, terutama yang berkaitan dengan pelayanan farmasi dan pengembangan obat alam. Silakan mengikuti dan menyimak materi dengan baik, serta manfaatkan sesi diskusi untuk sharing dan bertanya. Semoga ilmu yang diperoleh dapat memberikan manfaat dan keberkahan,” ujarnya.

Hadir sebagai narasumber, Septiana Kurniasari, M.Si., dosen Universitas Negeri Gorontalo, yang membahas potensi tanaman obat sebagai radioprotektor melalui pendekatan kecerdasan buatan. Dalam pemaparannya, Septiana menjelaskan radioterapi sebagai salah satu metode penanganan kanker yang memiliki manfaat dalam menghancurkan sel kanker, tetapi juga dapat berdampak pada jaringan sehat. Kondisi tersebut menjadi dasar pentingnya pengembangan radioprotektor untuk memberikan perlindungan terhadap dampak paparan radiasi.

Lebih lanjut, Septiana menjelaskan bahwa kekayaan biodiversitas Indonesia, khususnya tanaman obat yang telah dimanfaatkan masyarakat secara turun-temurun, memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sumber radioprotektor. Potensi tersebut perlu dikaji melalui penelitian untuk mengetahui manfaat serta aktivitas biologis yang dimilikinya, dengan memperhatikan aspek kebaruan dan metode penelitian yang tepat.

Ia juga memperkenalkan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), khususnya machine learning, dalam mendukung penelitian. Teknologi tersebut dapat membantu mengolah dan menganalisis data sehingga potensi tanaman obat sebagai radioprotektor dapat dikaji secara lebih terarah. Melalui materi tersebut, mahasiswa diajak memahami pentingnya pengembangan obat bahan alam melalui pendekatan ilmiah dan pemanfaatan teknologi.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Mahasiswa diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan memperdalam pemahaman mengenai materi yang telah disampaikan. Kegiatan ini diharapkan dapat menambah wawasan mahasiswa sekaligus mendorong minat terhadap pengembangan penelitian di bidang obat bahan alam dan radioprotektor. (Faiz)

Tulis komentar Anda

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses