
Oleh: Mohammad Subhan
Wakil Rektor 1 Universitas Islam Madura
Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan telah memancangkan sebuah cita-cita monumental: menjadi Perguruan Tinggi Unggul dan Berdaya Saing di Tingkat Asia pada tahun 2045, dengan berkarakter Islam Ahlussunah wal Jamaah. Visi ini bukanlah sekadar target kuantitatif yang terukur oleh indikator akademik semata, melainkan sebuah janji peradaban yang ditopang oleh fondasi keilmuan yang unik, yang disebut sebagai Kompas Holistik Keilmuan Lima Menara: Keislaman, Keaswajaan, Keindonesiaan, Kepesantrenan, dan Kemaduraan.
Lima menara ini membentuk arsitektur intelektual yang kokoh, mengintegrasikan tradisi keilmuan Islam nusantara dengan tuntutan modernitas. Namun, ada satu pilar tak kasat mata yang menjadi energi utama pergerakan UIM menuju puncak Asia 2045, sebuah pilar yang melampaui logika akademik konvensional, yaitu pendekatan suci melalui Istighosah rutin. Inilah sebuah praktik yang secara eksplisit diangkat sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, sebuah manifestasi dari olah hati dan rasa yang jernih—pendekatan yang kami sebut sebagai “Daya Saing Transendental” UIM.
Istighosah Jumat: Titik Nol Daya Saing Transendental
Setiap hari Jumat, sivitas akademika UIM menggelar Istighosah. Ritual doa bersama ini diselenggarakan di tempat-tempat yang memiliki nilai spiritualitas tinggi: di Makbarah (makam) Pendiri Pondok Pesantren Miftahul Ulum Bettet sekaligus Pendiri UIM Pamekasan, di Musholla Al-Muttaqin, di Kampus Gedung C Asrama Putri, hingga Gedung Pascasarjana. Tradisi berpindah-pindah tempat ini bukan tanpa makna; ia adalah simbol penetrasi spiritualitas ke seluruh lini akademik dan kehidupan kampus, menegaskan bahwa ilmu dan barokah harus tumbuh bersamaan.
Istighosah, atau memohon pertolongan, adalah pengakuan kolektif akan keterbatasan akal dan sumber daya di hadapan Dzat Yang Maha Kuasa. Dalam konteks kampus, ini adalah mekanisme penyelarasan niat (olahan hati) dan penenangan batin (olahan rasa) seluruh keluarga besar UIM—dosen, staf, dan mahasiswa—sebelum mereka kembali berpacu dengan tuntutan Tri Dharma (Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian). Ini adalah upaya untuk membangun nilai abstrak transendental, yang dalam bahasa pesantren disebut Barokah.
Barokah, dalam kerangka akademik UIM, dapat diartikan sebagai added value atau nilai tambah suci yang melipatgandakan dampak positif dari usaha-usaha rasional (otak). Sebuah riset yang dilandasi oleh hati yang bersih dan niat yang lurus akan memiliki daya tembus yang berbeda. Sebuah pengabdian masyarakat yang diiringi doa tulus akan memiliki efek yang lebih mengakar dan berkelanjutan. Inilah yang membedakan UIM: keberanian untuk menjadikan spiritualitas sebagai strategi institusional.
Menghubungkan Lima Menara dengan Kekuatan Batin
Kompas Holistik Keilmuan Lima Menara UIM adalah kerangka konseptual yang cerdas, dan Istighosah adalah lem perekatnya:
- Keislaman & Keaswajaan: Istighosah adalah perwujudan nyata dari ajaran Ahlussunah wal Jamaah yang menghargai tradisi, ulama, dan spiritualitas. Ia memastikan bahwa seluruh proses akademik UIM selalu berada dalam koridor Islam Moderat yang rahmatan lil ‘alamin, jauh dari radikalisme intelektual maupun praksis.
- Kepesantrenan & Kemaduraan: Melaksanakan Istighosah di Makbarah Pendiri adalah penghormatan tertinggi terhadap akar tradisi pesantren dan kearifan lokal Madura yang sangat menghargai karomah dan barokah para pendahulu. Ini adalah upaya otentik untuk melestarikan budaya spiritual Madura di tengah modernitas kampus.
- Keindonesiaan: Istighosah yang mengalirkan energi spiritual kolektif adalah praktik yang menguatkan ukhuwah dan solidaritas, menanamkan rasa kebersamaan yang esensial dalam konteks berbangsa.
Dengan Istighosah, UIM mengisyaratkan bahwa untuk mencapai Asia 2045, tidak cukup hanya mengandalkan rasionalitas dan kompetensi. Kompetensi saja hanya melahirkan homo economicus yang cerdas tetapi mungkin kering jiwa. UIM bertekad melahirkan “Homo Spiritualis Academicus”—cendekiawan yang cerdas secara intelektual, luhur secara moral, dan kuat secara spiritual.
Inovasi Tri Dharma Berbasis Olah Hati
Penerapan Istighosah sebagai bagian dari Tri Dharma adalah sebuah inovasi kebijakan yang patut dicatat:
• Pendidikan (Olah Hati dalam Belajar): Istighosah menciptakan iklim akademik yang tenang. Mahasiswa tidak hanya didorong untuk unggul dalam mata kuliah, tetapi juga dipandu untuk memiliki niat belajar yang suci, menjauhkan dari kecurangan dan sifat pragmatis.
• Penelitian (Olah Hati dalam Menemukan Kebenaran): Proses penelitian diimbangi dengan doa agar hasilnya bermanfaat dan barokah. Riset yang dilandasi niat baik tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga solusi yang benar-benar solutif bagi masyarakat.
• Pengabdian (Olah Hati dalam Melayani): Pengabdian masyarakat oleh UIM tidak hanya sebatas transfer ilmu dan teknologi, tetapi juga membawa sentuhan spiritual. Dosen dan mahasiswa yang mengabdi melakukannya dengan keikhlasan dan kerendahan hati, mewarisi semangat khidmah ala pesantren.
Barokah sebagai Competitive Advantage UIM
Di tengah persaingan global, banyak kampus berlomba-lomba memperkuat kecerdasan otak. UIM Pamekasan mengambil jalan yang lebih holistik dan unik, yaitu mengintegrasikan kecerdasan otak dengan kecerdasan hati.
Praktik Istighosah di UIM adalah sebuah strategi kebudayaan. Ini adalah cara UIM mendefinisikan ulang makna keunggulan: bukan hanya kampus yang publikasinya banyak atau memiliki bangunan megah, tetapi kampus yang memiliki keberkahan kolektif yang menjamin keberlanjutan dan dampak positif yang luas.
Visi Asia 2045 bagi UIM bukan hanya tentang mencapai peringkat. Lebih dari itu, ia adalah pencapaian spiritual dan kultural: menempatkan karakter Islam Ahlussunah wal Jamaah, yang berakar kuat pada tradisi Kepesantrenan dan Kemaduraan, sebagai kontribusi peradaban Indonesia di kancah Asia.
Istighosah di Makbarah Pendiri setiap Jumat, dalam hakikatnya, adalah pengingat sekaligus janji suci: bahwa pembangunan fisik dan intelektual harus selalu dibimbing oleh kekuatan transendental. Dengan barokah sebagai inti daya saing, UIM Pamekasan sedang menuliskan babak baru dalam sejarah pendidikan tinggi Islam, membuktikan bahwa keunggulan sejati berawal dari hati yang jernih, dan cita-cita global terbaik tumbuh dari akar tradisi spiritual yang kuat. Bismillah Ayo para Dosen dan Tendik istiqomah Hadir di acara Istighosah dalam setiap Jum’at Pagi

