
PAMEKASAN, uim.ac.id – Dalam suasana penuh khidmat di bulan suci Ramadan, Universitas Islam Madura (UIM) menggelar peringatan Nuzulul Qur’an dengan rangkaian kegiatan Istigasah dan Santunan anak yatim. Kegiatan ini menjadi momentum spiritual bagi civitas akademika untuk memperkuat nilai-nilai keislaman sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial.
Acara tersebut dihadiri oleh Majelis Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Bettet Pamekasan, Wakil pimpinan dan asatidz PP. Miftahul Ulum Bettet Pamekasan, Rektor, para Wakil Rektor, serta seluruh civitas akademika Universitas Islam Madura.
Acara diawali dengan pembukaan melalui pembacaan Surah Al-Fatihah yang dipimpin oleh KH. Muqri Fadhali. Suasana religius semakin terasa dengan lantunan Surah Yasin yang dibacakan oleh K. Mahrus Syafi’i, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh KH. Muhdhar Qorib.
Rektor UIM, Dr. H. Ahmad, S.Ag., M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa peringatan Nuzulul Qur’an merupakan kegiatan rutin yang setiap tahun diselenggarakan oleh Universitas Islam Madura sebagai bagian dari penguatan spiritual di lingkungan kampus.
Ia juga berbagi pengalaman saat berkunjung ke Jepang dalam rangka mengantarkan mahasiswa UIM yang melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL). Dalam kesempatan tersebut, ia berharap para mahasiswa dapat belajar dengan baik sekaligus membawa nama baik almamater Universitas Islam Madura di tengah masyarakat yang mayoritas non-Muslim.
“Mahasiswa harus mampu menunjukkan identitasnya sebagai insan akademik sekaligus duta kampus yang membawa nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin, meskipun berada di tengah masyarakat minoritas Muslim,” ujarnya.
Sementara itu, mauidzah hasanah disampaikan oleh KH. Fauzan Zaini. Dalam ceramahnya, ia mengutip pandangan Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin tentang tingkatan puasa. Menurutnya, puasa tidak hanya dimaknai sebagai menahan lapar dan dahaga, tetapi memiliki dimensi spiritual yang lebih dalam.
Ia menjelaskan bahwa puasa terbagi menjadi tiga tingkatan. Pertama, puasa awam, yaitu menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa. Kedua, puasa khusus, yakni menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa. Ketiga, puasa khususil khusus, yaitu puasa yang menjaga hati dari memikirkan selain Allah.
“Tiga tingkatan puasa ini ibarat tangga spiritual. Tujuan akhirnya adalah membentuk ketakwaan sejati, yaitu ketika seseorang tidak hanya menjaga jasmaninya, tetapi juga mampu menjaga kebersihan batinnya,” jelasnya.
Selanjutnya, pembacaan doa dipimpin oleh RK. Azril Ilham Sulthoni Ali. Sebagai akhir dari rangkaian kegiatan, panitia menyerahkan santunan kepada anak-anak yatim dan buka bersama. Momen ini menjadi simbol kepedulian sosial sekaligus wujud nyata semangat berbagi di bulan Ramadan yang penuh berkah. (Ila)

